Ada Apa Dengan Bioskop di Indonesia

February 20, 2011 § Leave a comment

Belakangan ini terjadi ‘keributan’ dimana-mana mengenai bioskop di Indonesia. Sebenarnya ada apa dengan bioskop di Indonesia?

Facts
secara sederhana, ‘keributan’ dimulai ketika Vice President, Deputy Managing Director & Regional Policy Officer Asia-Pacific MPA (Motion Pictures Association) Frank S Rittman mengatakan bahwa MPA tengah mempertimbangkan untuk menghentikan pendistribusian film Hollywood di Indonesia seiring pemberlakuan ketentuan bea masuk atas hak distribusi film impor, MPA sendiri merupakan asosiasi perdagangan di Amerika Serikat (AS)  yang menjaga kepentingan bisnis studio-studio besar di Negeri Paman Sam tersebut. Beberapa studio dimaksud antara lain The Walt Disney Company, Sony Pictures, Universal Studios,dan 20th Century Fox. Hal tersebut merupakan respon dari peraturan pajak baru yang menambah pungutan pajak atas Hak Distribusi yang kemudian dianggap memberatkan pihak-pihak terkait. Dan dari situ semuanya mulai bergulir, media menayangkan berbagai tema (pro & kontra).

Walaupun MPA sebenarnya masih dalam tahap ‘mempertimbangkan’ aturan pajak yang baru, berbagai spekulasi telah bermunculan, dari 10ribuan pengangguran tambahan hingga kematian bioskop di Indonesia dengan penambahan berbagai pelanggarannya seperti hilangnya hak akan informasi/pendidikan/pengajaran/lapangan pekerjaan di bidang perfilman, sebagaimana dilindungi UUD 45. LUARR BIASAA…!🙂

See The Puzzle
So let’s spread out the options….let us all assume that there will be two possibilities:

1. MPA Pergi
Ok, jika MPA benar-benar menghentikan pasokan film Hollywood ke Indonesia, dampak pertama yang akan terjadi adalah berkurangnya demand terhadap pelanggan bioskop (khususnya 21 Cineplex dan Blitz Megaplex), dan pengurangan demand akan mengakibatkan pihak bioskop mengurangi biaya produksi, termasuk diantaranya biaya atas karyawan. Sehingga bioskop akan melakukan pengurangan karyawan agar tetap dapat memperoleh keuntungan. Pengurangan karyawan tentu saja menjadi hal yang patut disayangkan akan tetapi angka yang mencapai 10ribuan menjadi hal yang sangat pantas untuk diperdebatkan karena bagaimanapun juga kebutuhan akan menonton film pasti TETAP ADA. Jika Cineplex 21 atau Blitz Megaplex berpikir untuk menutup bisnisnya, maka banyak usahawan lain yang akan mengganti peran tersebut karena kebutuhan menonton film pasti TETAP ADA.

Lalu bagaimana dengan perfilman Indonesia? “Selama ini produksi film nasional mencapai 77 film per tahun, sedangkan impor film mencapai 140 film. Perbandingannya 36:64. Ini berbanding terbalik dengan apa yang diamanatkan undang-undang, yakni 60 untuk film nasional, dan 40 untuk film asing,” (Kompas.com, 18/02). Jika demikian, produsen film Indonesia akan ‘dipaksa’ untuk memenuhi ruang kosong (potensi pasar) yang ditinggalkan film Hollywood. Dan secara alamiah pula, film-film Indonesia yang buruk tidak akan memenuhi kebutuhan dan dengan sendirinya tersingkir dari bisnis. Sehingga hanya film-film yang mampu memenuhi kebutuhan yang akan dapat memperoleh pendapatan. Perkara film-film yang ada hanyalah film berbau sinetron, setan, seks atau apapun, ini berarti bahwa film-film tersebut masih memperoleh pendapatan karena jika film-film jenis ini merugi, produsen tidak akan melanjutkan produksi (semacam ini). Hal ini tidak bisa dipungkiri (suka atau tidak) karena as long as there is a demand, there will always be supply. Dan jika suatu saat film-film tidak bermutu tersebut mulai kehilangan demand, makademand dengan sendirinya akan mendorong munculnya (supply) film-film bermutu (ingat fenomena Ada Apa Dengan Cinta)?. Dan dengan banyaknya sutradara-sutradara yang kompeten di Indonesia, seharusnya kita percaya bahwa perfilman Indonesia akan maju.

Efek lainnya yang mungkin terjadi adalah kenaikan harga DVD bajakan. Karena kebutuhan akan ini pasti meningkat, tapi hal ini adalah bahasan lain, toh dengan/tanpa pajak baru yang diterapkan pada impor film asing, DVD bajakan tetap exist karena ini bagian dari underground economy. Sehingga bahasan mengenai DVD bajakan bukanlah dalam domainartikel kali ini.

2. MPA Tidak Pergi
Bioskop Indonesia akan seperti biasanya, mencoba memenuhi kebutuhan menonton film di Bioskop di Indonesia. Dengan penerapan pajak yang baru, mungkin saja keuntungan yang diperoleh semakin berkurang. Dan apabila mereka mencoba menaikkan harga tiket, maka berpotensi mengurangi penontong yang ujungnya mengurangi pendapatan. Dan kemungkinan-kemungkinan itu pun harus mempertimbangkan kondisi persaingan bioskop yang ada.

Conclusions
Indonesia dengan lebih dari 200 juta penduduknya dan menempati posisi ke-4 sebagai negara dengan tingkat populasi terbanyak setelah China, India dan AS. Tentu hal ini akan menjadi bahan pertimbangan, apalagi MPA yang telah ada di Indonesia sejak lama dan merasakan keuntungan sebelumnya? demikian halnya dengan bioskop di Indonesia.

Yang menjadi catatan menarik adalah Cineplex 21 memiliki 500an lebih layar bioskop dari total keseluruhan 640 layar di seluruh Indonesia. Dengan penguasaan pasar sekitar 78 persen tersebut, maka sangat aneh bila tidak ada pengenaan pajak baru tersebut tidak mengusik mereka. Karena penulis tidak memliki laporan keuangan Cineplex 21, mari coba kita berhitung sederhana, dengan memakai asumsi sederhana pula: 500 layar x 50 Penonton x 2 sesi tayang per hari x 5000 (anggap sebagai keuntungan) = 250 JUTA RUPIAH. Itupun hanya satu film dan dengan asumsi 5000 Rupiah sebagai keuntungan. Bagaimana dengan film lain? berapa kali tayang dalam sehari? Ah.. bagaimanapun juga pajak baru tentu akan sangat mengganggu.

Akan tetapi masyarakat seharusnya tidak perlu khawatir, karena persaingan dengan sendirinya akan berpihak kepada konsumen sehingga bukan masyarakat yang nantinya akan dirugikan. Berbagai tulisan yang sangat aneh sampai perlu membawa UUD 45 sangatlah absurd dan sarat dengan kepentingan bisnis semata.

Apapun hasilnya, siklus ekonomi tentu akan bekerja layaknya air, dimana ada pengurangan maka pada sisi lain terjadi penambahan. Jika terjadi pengurangan karyawan yang notabene akan menambah jumlah pengangguran, pada sisi lain, Pemerintah dapat menambah pekerjaan dalam bentuk lain. Teorinya demikian.

Yang pasti, kita sebagai masyarakat jangan sampai terseret pada provokasi berbasis bisnis kelompok tertentu (ingat kasus tentang Blackberry?). Kita harus dapat menganalisa tidak hanya satu sisi, namun sisi lainnya. Dan kita harus percaya diri bahwa Bangsa Indonesia adalah Pasar Potensial Dunia. We are their customer therefore we should act and think as a customer. Layaknya belanja di pasar tradisional, tawar-menawar adalah hal yang lumrah, dan kita sebagai konsumen tentu selalu ingin memperoleh yang terbaik dan Harga akan terjadi pada level yang diinginkan oleh pembeli dan penjual.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ada Apa Dengan Bioskop di Indonesia at 1alinea.

meta

%d bloggers like this: