Kendaraan, Kemacetan dan Jakarta

February 11, 2011 § 3 Comments

Menakjubkan jika melihat perkembangan Jakarta saat ini dengan jumlah total kendaraan diprediksi mencapai angka 11 juta unit di tahun 2010 lalu. Belum lagi jika ditambahkan dengan keseluruhan provinsi di Indonesia.

Pros
Entah apa yang harus dibanggakan, kenaikan produksi kendaraan yang berdampak pada penurunan jumlah pengangguran (dengan asumsi bahwa setiap kenaikan produksi memang menambah jumlah karyawan)?, atau meningkatnya kontribusi pendapatan daerah melalui berbagai jenis pajak (salah satunya melalui billboard andalanbang foke: Bayarlah Pajak Tepat Pada Waktunya)?, ataukah menggeliatnya sektor pembiayaan dari kendaraan yang semakin meningkat tajam?. Sebenarnya, kalo mau dirunut, memang banyak kontribusi positif dari peningkatan jumlah kendaraan.

Cons
Jumlah kendaraan yang sedemikian banyak tentu secara otomatis menyebabkan kemacetan dan dari kemacetan akan timbul penurunan produktivitas secara keseluruhan. Kemacetan juga menimbulkan polusi, stress dan potensi peningkatan kriminalitas. Sejujurnya, kalo memang mau detail, masih banyak sekali sisi negatif dari peningkatan jumlah kendaraan.

Upaya
Pemda DKI selaku penguasa Jakarta melalui berbagai dinas terkait sepertinya belum mampu memberikan dampak yang luar biasa (sebagaimana warga Jakarta memberikan dampak pajak yang luar biasa kepada Pemda DKI). Pemda DKI sepertinya lebih tertarik pada upaya pembangunan jalan dibandingkan dengan upaya-upaya strategis lainnya yang seharusnya lahir dari pemikiran seorang Gubernur DKI terpilih lulusan pendidikan tata kota di Negeri Jerman. Padahal telah banyak tulisan yang meragukan dampak pembangunan jalan terhadap pengurangan kemacetan (the more roads you build, the more vehicles will fill in). Sayangnya, karena memang diserahkan pada ahlinya, maka alasan dilematis nan normatif selalu tersedia.

Terlepas dari Pemda DKI, pihak yang seharusnya menjadi wakil rakyat, dalam hal ini para anggota DPRD DKI Jakarta, belum juga memberikan dampak istimewa.

Miris rasanya melihat manusia saat berkendara, contohnya dengan membawa bayi di motor (begitu mudahnya mereka sembarangan terhadap titipan Tuhan?), pelajar SMP mengendarai motor (semoga sekolah tidak membiarkan pelajarnya (tanpa sim) membawa motor), hampir di tiap jalan terlihat pengendara motor tanpa helm (biasa salah menjadi hal yang biasa). Setiap pagi jumlah kendaraan baik mobil maupun motor kerap berlomba dalam kemacetan terkecuali pejabat dengan voorijder-nya.

Namun memang menjadi kenyataan juga bahwa bisnis bengkel semakin banyak ditambah dengan usaha-usaha terkait kendaraan lainnya dan ini menunjukkan geliat pergerakan ekonomi mulai bergerak seiring dengan kemacetan yang ada. Tetapi perlu dicatat bahwa subsidi BBM hingga saat ini masih membebani anggaran negara kita, sehingga perlu dianalisa kembali apakah subsidi BBM masih tepat untuk diberikan?

Solusi Alternatif

Pilihannya banyak, mulai dari perbaikan angkutan umum secara sistematis hingga proyek angkutan massal yang terbaru Tapi pengembangannya masih setengah hati, contohnya proyek busway yang lambat progresnya hingga baru-baru ini mulai diefektifkan penggunaannya, Monorail yang masih terbengkalai, Subway MRT yang katanya akan dimulai pembangunannya, penggunaan electronic card system yang hanya menjadi wacana, hingga jalur sepeda yang tetap menjadi cita-cita.

Conclusion

Gubernur DKI akan tetap pada pendiriannya (semoga sukses di pilkada berikutnya), Anggota DPRD DKI akan tetap asik duduk di kursinya (hingga dekat masa pilkada), dan besok jakarta akan tetap macet sebagaimana mestinya.

Tagged: , , ,

§ 3 Responses to Kendaraan, Kemacetan dan Jakarta

  • Myrces says:

    Ngapain sih doain Foke? Dukung Jokowi jadi DKI1.. Yeah..

    Angkutan massal yg nyaman, aman, murah, manusiawi, banyak, sering lewat adalah jawaban dari kemacetan ruwet dan ribet ini. Salam dari saya, pecinta KRL🙂

    • 1alinea says:

      Jokowi? siapa ya? wekekek….kayaknya terkenal yak?😀 cuma gw belum terlalu kenal, walaupun pernah denger sih katanya hebat soal persuasif dengan pedangan kaki lima. Cuma kalo diterapin di Jakarta apa yakin bisa?

      • Myrces says:

        Kayaknya terkenal? Dia memang TERKENALLLL… *fans sewot, misuh-misuh*😦

        Tentu saja dia mampu. Khan akyu pendukungnya.. *ga ilmiah banget*.

        Yaaa… kenapa ga dicoba? Wong yg ngaku jebolan Jember (baca Jerman bersatu) aja ga sukses… ya sudahlah.. coba yg sukses membenahi Solo sekarang di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kendaraan, Kemacetan dan Jakarta at 1alinea.

meta

%d bloggers like this: