kisah si bocah (sahabatku) IKALTIS’99

October 14, 2009 § Leave a comment

jadi begini ceritanya: alkisah dulu ada seorang bocah tukang kibul yang punya beberapa cerita lucu. suatu kali dia lagi jaga wartel milik ayahnya, terus pagi2nya ternyata mesin fax wartel ilang!!, trus dia lapor ke bapaknya, “pak, mesin fax diwartel ilang..!”, “oh, ya udah gak pa’pa nak”, jawab bapaknya. padahal si bocah itu malingnya, temen2nya pada ngakak denger ceritanya, “itu bapaknya bego amat yak, percaya ama bocah tukang kibul!”.

suatu hari lagi, pada siang hari, si bocah ngeliat ada dompet tergeletak diatas meja, yang diketahui adalah dompet abangya yang sedang tertidur pulas, karena godaan setan, akhirnya bocah itu mengambil dompet itu, pergi keluar dan menguras uang yang ada didalam dompet, sedangkan dompetnya dia buang ke kali depan sagaju. sekembalinya bocah kerumah, ada keramaian dalam keluarga. “dompet gw ilaang!” cemas sang abang sambil memeriksa bawah meja. sekeluarga sibuk mencari dompet dan si bocah juga ‘ikut’ mencari. tidak seperti kisah-kisah kejahatan lainnya, kali ini sang abang harus merelakan dompet dan bersusah payah untuk mengurus ktp, atm dan surat lainnya ke kantor polisi. sementara sang bocah merasa tenang “ha..ha..ha..untung kagak ketauan, lumayan beberapa ratus ribu”.

Beberapa waktu kemudian, sang ayah sepertinya ketiban rejeki dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah SD, maklum waktu itu dekat dengan penerimaan siswa baru. Sang ayah memutuskan untuk merenovasi rumahnya agar lebih bagus. Hari demi hari berlanjut, dan pada suatu ketika, si bocah tergoda melihat amplop yang nongol dari kantung baju kemeja sang ayah yang tergeletak, kemudian otak malingnya bekerja, diambilnya amplop tersebut dan dia gembira bukan main!, uangnya banyak! tapi otaknya kini berputar, “kalo diambil semua, pasti ketauan, kalo diambil banyak ntar curiga, ya udah, ambil sedikit aja”. akhirnya dia ambil 20rb, dan keesokan harinya ayahnya tidak curiga sama sekali, dan si bocah berkata dalam hati “asiiiik!, gak ketauan!”. Hari-hari berikutnya dia lalui dengan cara yang sama, mengambil uang dalam amplop yang sejatinya ayahnya akan gunakan untuk keperluan membeli dan membayar biaya renovasi rumahnya. Seperti kata pepatah, sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit, tetapi untuk bocah ini adalah sedikit-sedikit, lama-lama gak tahan, ambil banyak aja sekalian. Semakin lama si bocah memberanikan diri “ah, selama ini gak ada yang curiga, ambil aja banyakan lagi”, sejak saat itu mulai lah si bocah mengambil lebih banyak dan lebih banyak lagi hingga akhirnya sang ayah menaruh curiga. Suatu kali sang ayah bertanya-tanya pada sang ibu “kok uang saya berkurang ya di amplop”, sang ibu menjawab dengan bijak “mungkin ayah lupa naruhnya”, dan ayah pun mengiyakan. Namun, lama kelamaan sang ayah semakin yakin bahwa uang yang hilang itu ada yang mengambilnya dan suatu kali di yakinkan dengan menaruh uang yang sudah dihitung dan kemudian benar adanya bahwa uangnya berkurang! saat itu juga semua anggota keluarga dikumpulkan. Sang ayah menanyai satu per satu anggota keluarganya dan tidak ada satupun yang mengaku, sampai pada giliran si bocah, “kamu yang ambil?” dan si bocah pun mengelak “enggak lah yah!, lagian kok pada ngeliatin begitu sih? ngapain ngambil2 duit begituan!” sang ayah pun tidak habis akal dan berkata sambil berdiri seakan mau pergi “ya udah, kalo begitu ayah mau ambil wudhu, mau sholatin orang yang ngambil biar APES 7 TURUNAN…”. Si bocah seakan mendengar petir dalam hatinya “JEGEERRR!!” ternyata si bocah tukang kibul pun punya rasa takut, sehingga dengan berkeringat dia pun berkata “tunggu ayah!” seakan memanggil sang ayah yang sedang berjalan. semua terdiam, hening, semua anggota keluarga menatap tajam si bocah. “iya, aye ngaku….aye yang ambil” dengan nada lirih. Sang ibu kemudian menyahut “ya ampuuuuun! ibu tuh udah curiga sama elu, dasar tikus kepala item!”, sang adik dan kakak yang lain pun bergumam seakan mendukung pernyataan sang ibu, bahkan sang abang mengingat kejadian dompetnya yang hilang, “wah jangan-jangan dompet gw elu yang embat waktu itu ya” namun si bocah menyangkal “enggak! kalo itu beneran enggak!” sang ayah kemudian mendekat dan duduk, “ya sudah, kalo memang sudah ketauan siapa yang ngambil, untung kamu ngaku, kalo enggak kan bisa apes kamu nanti”, acara keluarga tersebut dilanjutkan dengan acara wejangan untuk si bocah berharap agar bertaubat.

Pesan Moral dari Cerita ini:
1. Punya pacar jangan kebanyakan: si bocah ternyata menggunakan uangnya buat jalan-jalan sama cewek, yang bukan hanya satu.

2. Jangan keburu nafsu: kalo aja si bocah tetep mengambil sedikit dari amplop itu, mungkin tidak akan ketahuan, tapi mengingat pesan moral no. 1, ya beginilah jadinya.

3. Jangan mudah percaya: kalo aja sang ayah lebih jeli dalam melihat permasalahan mesin fax yang hilang, maka mungkin si bocah tidak berniat melanjutkan aksinya. karena kalo dipikir-pikir: masa mesin fax bisa ilang! ha..ha..ha..ada si bocah yang jagain pula! yah tapi biar gimana pun juga, namanya seorang ayah, ya percaya aja, dan mengenai si bocah karena pesan moral no. 1 itu.

4. Sok Kegantengan bisa berarti dapet pacar banyak: arti lain dari ini adalah percaya diri. si bocah dengan tampang pas-pas-an bisa dapat banyak pacar dan pergi jalan-jalan, beli hadiah, dan sebagainya serta PD ketika dicurigai.

5. Silahkan tambah pada comment jika ada.

Demikian cerita ini yang menjadi latar belakang sekaligus jawaban dari pertanyaan pada komentar ke-469 disalah satu foto group IKALTIS’99.

Cerita ini dibuat tanpa persetujuan si bocah.

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading kisah si bocah (sahabatku) IKALTIS’99 at 1alinea.

meta

%d bloggers like this: